• Marine Hull Physical Hazard: Konstruksi Kapal

    Tidak berbeda dengan metode underwriting pada kelas bisnis lainnya, dalam kelas bisnis marine hull secara dasar kita juga menganalisa beberapa aspek atau faktor underwriting yang terkait dengan keputusan underwriter untuk menerima atau menolak resiko yang diajukan. Aspek utama yang dianalisa adalah mengenai Physical Hazard. Pada Aspek Physical hazard hal pertama yang kita analisa adalah mengenai konstruksi kapal.

    Konstruksi kapal laut sendiri terdiri dari berbagai macam jenis bahan / materialnya, antara lain:

    1. Wooden Construction (Kayu)

    Bahan ini merupakan bahan paling tua dan tradisional dalam sejarah penciptaan kapal laut. Sebelum ditemukan teknologi canggih serta material baru dalam penciptaan kapal, kayu mendominasi konstruksi kapal yang ada.

    Pada penciptaan kapal kayu, kapal dibentuk melalui susunan potongan-potongan kayu yang disatukan baik dengan paku ataupun pasak yang direkatkan kepada rangka kapal tersebut. Akibatnya, struktur dari kapal menjadi rentan / rendah integritasnya. Oleh karena itu, kapal kayu tidak dapat digunakan pada kecepatan tinggi karena akan menyebabkan struktur kapal pecah, terutama jika berlayar di perairan yang memiliki gelombang tinggi. Tinggi kapal dari bahan kayu juga umumnya rendah, sehingga kapal lebih rentan terhadap resiko masuknya air ke palka.

    Kelemahan lainnya adalah bahwa kapal kayu rentan terhadap resiko terbakar, dan kebocoran yang timbul dari celah sambungan-sambungan kayu dimana biasanya celah sambungan-sambungan tersebut hanya disambung dengan dempul yang rentan terkelupas dan bocor. Mayoritas dari pembuatan kapal kayu tidak comply terhadap regulasi BKI.


    2. Steel Construction (Baja)

    Bahan baja merupakan bahan yang paling umum digunakan dalam pembuatan rangka kapal laut, utamanya pada kapal-kapal berukuran besar. Bahan Baja memiliki beberapa keuntungan dan juga kelemahan.

    Keuntungan dari bahan baja adalah bahan ini memiliki sifat tidak mudah retak dan tidak mudah berubah bentuk meski mengalami tekanan yang hebat / besar, sehingga lebih tahan terhadap gaya geser (Shear stress) pada kapal tersebut. Hal ini kita sebut sebagai sifat Ductile / Ductility.

    Pada Sambungan baja, sifat kimia dan juga fisiknya tidak mengalami banyak perubahan meski pada tingkat panas yang tinggi. Selain itu, bahan ini memiliki sifat kimia yang baik dalam hal pencegahan terjadinya karat, apalagi jika ditambah dengan lapisan cat yang juga bersifat anti korosif.

    Kelemahan bahan baja relatif terhadap bahan lainnya adalah bahwa bahan ini masih memiliki sifat korosif, sehingga maintenance terkait sifat korosif ini perlu usaha ekstra dan perawatan ekstra.

    3. Ferrocement Construction

    Struktur ini serupa dengan material beton bertulang, namun bedanya adalah penulangannya hanya terdiri dari lapisan kawat halus yang diisi dengan semen mortal. Dengan menggunakan bahan ini, maka builder kapal dapat dengan mudah membentuk sesuai dengan keinginannya. Aspek positif lainnya adalah material ini tahan lama, pemeliharaannya mudah, dan tidak mudah terbakar.

    Kekurangan dari bahan ini adalah jika dia menghadapi tekanan yang besar, biasanya akan patah, karena sifat "Ductile'nya rendah tidak seperti bahan Baja. Oleh karena itu, bahan ini biasanya jarang ditemukan pada kapal-kapal besar dan hanya digunakan pada kapal kecil sebagai bahan alternatif pengganti kayu yang semakin sulit ditemui.

    4. Fibreglass Construction

    Proses pembuatan fibreglass adalah dengan melalui pencetakan serat fiber untuk menjadi sebuah kapal. Fibreglass sendiri adalah merupakan polymer komposit yang memiliki sifat getas (mudah pecah) sangat tinggi. Oleh karena itu bahan ini tidak cocok juga bagi kapal-kapal besar. Biasanya digunakan pada kapal kecil seperti Yacht, dan sejenisnya. Kelebihannya adalah bahan ini ringan, tidak mengalami korosi, dapat dibuat dalam berbagai bentuk dan warna, serta pemeliharaan lambung kapal menjadi relatif mudah.