Blog

Share what we know through blog article

  • ASURANSI TANGGUNG GUGAT: TANGGUNG JAWAB PENGANGKUT ANGKUTAN UDARA

    Pemerintah terhitung tanggal 10 Agustus 2011 telah mengeluarkan Peraturan Menteri Perhubungan No: PM 77 Tahun 2011 Tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan udara. Peraturan ini secara garis besar mengatur tentang pokok-pokok tanggung jawab maskapai angkutan udara (baik pengangkut penumpang, kargo, ataupun pos) terhadap peristiwa terjadinya kecelakaan atau kerugian yang terkait dengan kegiatan usaha yang dijalankannya selaku operator jasa transportasi / angkutan udara.

    Menurut peraturan ini, ada 6 (enam) Jenis tanggung jawab pengangkut udara. Pengangkut yang mengoperasikan pesawat udara wajib bertanggung jawab atas kerugian terhadap:


    A. Penumpang yang meninggal dunia, cacat tetap atau luka-luka;


    Besar santunan:


    1. Penumpang yang meninggal dunia di dalam pesawat udara karena akibat kecelakaan pesawat udara atau kejadian yang semata-mata ada hubungan dengan  pengangkutan udara diberi santunan sebesar Rp. 1.250.000.000 per penumpang.
    2. Penumpang yang meninggal dunia akibat kejadian yang semata-mata ada hubungan dengan  pengangkutan udara pada saat proses meninggalkan ruang tunggu Bandar udara menuju pesawat atau pada saat proses turun dari pesawat menuju ruang kedatangan di Bandar udara tujuan diberi santunan sebesar Rp. 500.000.000 per penumpang.
    3. Cacat tetap total diberikan santunan sebesar Rp. 1.250.000.000 per penumpang
    4. Cacat tetap sebagian diberikan santunan sesuai tabel santunan berdasarkan cacat yang dideritanya.
    5. Biaya pengobatan akibat kecelakaan tersebut maksimal sebesar Rp. 200.000.000 per penumpang.

    B. Hilang atau rusaknya bagasi kabin;


    Hilang, Musnah, atau rusaknya bagasi tercatat, Besar santunan:


    1. Kehilangan bagasi tercatat diberi penggantian Rp. 200.000 per Kg / Penumpang. Maksimal Rp. 4.000.000 / penumpang.
    2. Kerusakan bagasi diberikan ganti rugi sesuai jenis, bentuk, ukuran, dan merk bagasi tersebut.
    3. Uang tunggu selama bagasi belum ditemukan, Maksimal sebesar Rp. 200.000 / hari (paling lama untuk 3 hari kalender).
    C. Hilang, musnah, atau rusaknya kargo;


    D. Keterlambatan angkutan udara;

    i. Keterlambatan penerbangan (Delayed flight)
    1. Keterlambatan lebih dari 4 jam diberi santunan Rp. 300.000 per penumpang
    2. Bagi penumpang yg di “Re-routing”, diberikan 50% dari point 1 diatas, dan pengangkut wajib menyediakan tiket  penerbangan lanjutan atau menyediakan transportasi lain  sampai ke tempat tujuan apabila tidak ada moda transportasi selain angkutan udara.
    3. Dalam hal pengalihan penerbangan ke maskapai lain, maka penumpang dibebaskan dari biaya tambahan. 
    Keterlambatan yang diberi santunan hanya keterlambatan yang penyebabnya diluar factor cuaca dan/atau factor teknis operasional. 

    Factor cuaca antara lain: hujan lebat, petir, badai, kabut, asap, jarak pandang dibawah standar minimal atau kecepatan angin yang melampaui standar maksimal yang mengganggu keselamatan penerbangan.

    Faktor teknis operasional antara lain: Bandar udara tidak dapat digunakan untuk operasional, lingkungan menuju Bandar udara atau landasan terganggu fungsinya (Misal: retak, banjir, atau kebakaran), terjadinya antrian pesawat lepas landas (take off), antrian landing, & keterlambatan pengisian bahan bakar.

    ii. Tidak terangkutnya penumpang karena kapasitas pesawat (denied boarding)

    1. Maskapai wajib mengalihkan ke maskapai lain tanpa biaya tambahan
    2. Memberikan konsumsi, akomodasi, dan biaya transportasi apabila tidak ada  penerbangan lain ke tempat tujuan
    iii. Pembatalan penerbangan (cancellation of flight)

    Maskapai wajib mengembalikan seluruh uang tiket penumpang

    iv. Kerugian yang di derita pihak ketiga (baik dalam hal cedera badan ataupun kerusakan harta benda).

    Dalam hal cedera badan:
    1. Meninggal dunia diberi santunan Rp. 500.000 per orang
    2. Cacat tetap total diberi santunan maksimal Rp. 750.000.000 per orang
    3. Biaya pengobatan akibat luka-luka maksimal Rp. 100.000.000 per orang
    Dalam hal kerusakan harta benda:
    1. Untuk Pesawat dengan kapasitas sampai dengan 30 tempat duduk, ganti rugi maksimal Rp. 50.000.000.000
    2. Untuk Pesawat dengan kapasitas 30 sampai dengan 70 tempat duduk, ganti rugi maksimal Rp. 100.000.000.000
    3. Untuk Pesawat dengan kapasitas 70 sampai dengan 150 tempat duduk, ganti rugi maksimal Rp. 175.000.000.000
    4. Untuk Pesawat dengan kapasitas lebih dari 150 tempat duduk, ganti rugi maksimal Rp. 250.000.000.000

    Dikarenakan besarnya eksposur resiko dan tanggung jawab yang dipikul oleh pihak maskapai, pemerintah juga mewajibkan agar resiko / tanggung jawab tersebut diasuransikan, dan asuransi yang menjaminnya berupa konsorsium. Konsorsium tersebut terbuka bagi seluruh asuransi yang dapat menjamin dan hendak berpartisipasi dalam konsorsium tersebut.
  • Cargo Insurance: International commercial Terms

    Dalam menjamin Asuransi Pengangkutan barang atau lebih dikenal sebagai Cargo Insurance, seringkali kita dihadapkan pada beragamnya cara memperhitungkan Jumlah nilai yang dipertanggungkan karena adanya perbedaan syarat perdagangan pada barang-barang yang akan dikirim.

    Standard internasional dalam hal istilah perdagangan tersebut diatur oleh Kamar Dagang International (International Chambers of Commerce) sehingga dalam hal perdagangan lintas negara, para trader memiliki pengertian yang sama, termasuk juga pihak asuransi sebagai penjamin resiko atas pengiriman barang-barang tersebut. Hal ini amat penting untuk mengetahui perpindahan resiko (risk transfer) antara pihak penjual (seller) dan Pembeli (buyer).

    Beberapa istilah yang lazim ditemukan antara lain:
    1. CFR (Cost and Freight), Named Destination Port; Biaya dan uang tambang (freight) yang timbul menjadi tanggung jawab penjual sampai dengan "ship's rail" pelabuhan pengiriman. Resiko berpindah dari penjual ke pembeli sesaat setelah barang melintasi "ship's rail" pada pelabuhan pengiriman. Lebih daripada itu segala tanggung jawab sudah berpindah kepada pihak pembeli.

    2. CIF (Cost, Insurance, and Freight), Named Destination Port; sama seperti halnya CFR, namun dalam CIF pihak penjual wajib membeli asuransi atas pengiriman barang tersebut untuk melindungi kepentingan pembeli sampai di pelabuhan tujuan. Pihak penjual hanya berkewajiban membeli asuransi dengan cover Minimum. Jika pihak pembeli menginginkan cover yang lebih luas, maka dia dapat membeli perlindungan tambahan atas biaya pembeli.

    3. CPT (Carriage paid To), Named Place of Destination; Penjual membayar biaya pengiriman sampai dengan tempat tujuan. namun, resiko yang ditanggung penjual hanya sampai barang tersebut diserahkan kepada pengirim (carrier) yang pertama.

    4. CIP (Carriage and Insurance Paid To), Named Place of destination; Penjual membayar biaya pengiriman dan asuransi sampai dengan tempat tujuan. namun, resiko yang ditanggung penjual hanya sampai barang tersebut diserahkan kepada pengirim (carrier) yang pertama.

    5. EXW (Ex Works), Named Place; penjual berkewajiban menyediakan barang di lokasi si penjual. Selanjutnya resiko dan biaya menjadi tanggung jawab pembeli

    6. FCA (Free Carrier), Named Place; resiko dan biaya ditanggung penjual sampai dengan di tangan pembawa (carrier) pertama

    7. FAS (Free Alongside Ship), named Loading port; penjual bertanggung jawab terhadap resiko dan biaya sampai dengan barang tiba di pinggir kapar (alongside ship) pada pelabuhan pengiriman yang telah ditentukan.

    8. FOB (Free On Board), Named Loading Port; Penjual bertanggung jawab atas biaya dan resiko sampai dengan barang tersebut diatas kapal (on Board the vessel)

  • Claim Made Basis

    Pengertian :
    Penanggung hanya bertanggung jawab atas klaim yang terjadi dalam kurun waktu berlakunya polis. Dengan demikian, kerugian yang terjadi pada saat polis masih berlaku namun belum diajukan karena belum diketahui dan baru dituntut setelah polis tidak berlaku lagi bukan menjadi tanggung jawab Penanggung.

    Claim made basis merupakan upaya dari pihak underwriter untuk mengatasi ruang lingkup risiko sebagaimana diberlakukan dalam Occurance sekaligus antisipasi untuk menghindari long tail business dari sifat Liability Insurance.

    Sebagai Contoh :
    Proses terjadinya suatu klaim tanggung gugat profesi dapat berlangsung dalam waktu yang panjang. Akibat kesalahan dalam melaksanakan suatu operasi misalnya baru dapat diktahui dalam beberapa bulan bahkan sampai beberapa tahun kemudian.

    Dengan berjalannya proses yang mungkin bertahun-tahun tersebut maka mungkin sekali bahwa akibat suatu kesalahan yang dibuat oleh seorang dokter pada waktu ia masih memiliki polis asuransi tanggung gugat profesi baru diketahui beberapa tahun kemudian sedangkan polisnya sendiri sudah lama tidak berlaku – misalnya karena tidak dilakukan perpanjangan polis.
    Dengan demikian, agar ruang lingkup pertanggungan yang di-cover menjadi lebih jelas maka polis asuransi tanggung gugat tersebut ditutup berdasrkan prinsip “Claim Made”, sehingga Penanggung hanya bertanggung jawab atas klaim yang terjadi dalam kurun waktu berlakunya polis.

    Dengan demikian, kerugian yang terjadi pada saat polis masih berlaku namun belum diajukan karena belum diketahui dan baru dituntut setelah polis tidak berlaku lagi bukan menjadi tanggung jawab Penanggung.
  • Marine Hull Physical Hazard: Konstruksi Kapal

    Tidak berbeda dengan metode underwriting pada kelas bisnis lainnya, dalam kelas bisnis marine hull secara dasar kita juga menganalisa beberapa aspek atau faktor underwriting yang terkait dengan keputusan underwriter untuk menerima atau menolak resiko yang diajukan. Aspek utama yang dianalisa adalah mengenai Physical Hazard. Pada Aspek Physical hazard hal pertama yang kita analisa adalah mengenai konstruksi kapal.

    Konstruksi kapal laut sendiri terdiri dari berbagai macam jenis bahan / materialnya, antara lain:

    1. Wooden Construction (Kayu)

    Bahan ini merupakan bahan paling tua dan tradisional dalam sejarah penciptaan kapal laut. Sebelum ditemukan teknologi canggih serta material baru dalam penciptaan kapal, kayu mendominasi konstruksi kapal yang ada.

    Pada penciptaan kapal kayu, kapal dibentuk melalui susunan potongan-potongan kayu yang disatukan baik dengan paku ataupun pasak yang direkatkan kepada rangka kapal tersebut. Akibatnya, struktur dari kapal menjadi rentan / rendah integritasnya. Oleh karena itu, kapal kayu tidak dapat digunakan pada kecepatan tinggi karena akan menyebabkan struktur kapal pecah, terutama jika berlayar di perairan yang memiliki gelombang tinggi. Tinggi kapal dari bahan kayu juga umumnya rendah, sehingga kapal lebih rentan terhadap resiko masuknya air ke palka.

    Kelemahan lainnya adalah bahwa kapal kayu rentan terhadap resiko terbakar, dan kebocoran yang timbul dari celah sambungan-sambungan kayu dimana biasanya celah sambungan-sambungan tersebut hanya disambung dengan dempul yang rentan terkelupas dan bocor. Mayoritas dari pembuatan kapal kayu tidak comply terhadap regulasi BKI.


    2. Steel Construction (Baja)

    Bahan baja merupakan bahan yang paling umum digunakan dalam pembuatan rangka kapal laut, utamanya pada kapal-kapal berukuran besar. Bahan Baja memiliki beberapa keuntungan dan juga kelemahan.

    Keuntungan dari bahan baja adalah bahan ini memiliki sifat tidak mudah retak dan tidak mudah berubah bentuk meski mengalami tekanan yang hebat / besar, sehingga lebih tahan terhadap gaya geser (Shear stress) pada kapal tersebut. Hal ini kita sebut sebagai sifat Ductile / Ductility.

    Pada Sambungan baja, sifat kimia dan juga fisiknya tidak mengalami banyak perubahan meski pada tingkat panas yang tinggi. Selain itu, bahan ini memiliki sifat kimia yang baik dalam hal pencegahan terjadinya karat, apalagi jika ditambah dengan lapisan cat yang juga bersifat anti korosif.

    Kelemahan bahan baja relatif terhadap bahan lainnya adalah bahwa bahan ini masih memiliki sifat korosif, sehingga maintenance terkait sifat korosif ini perlu usaha ekstra dan perawatan ekstra.

    3. Ferrocement Construction

    Struktur ini serupa dengan material beton bertulang, namun bedanya adalah penulangannya hanya terdiri dari lapisan kawat halus yang diisi dengan semen mortal. Dengan menggunakan bahan ini, maka builder kapal dapat dengan mudah membentuk sesuai dengan keinginannya. Aspek positif lainnya adalah material ini tahan lama, pemeliharaannya mudah, dan tidak mudah terbakar.

    Kekurangan dari bahan ini adalah jika dia menghadapi tekanan yang besar, biasanya akan patah, karena sifat "Ductile'nya rendah tidak seperti bahan Baja. Oleh karena itu, bahan ini biasanya jarang ditemukan pada kapal-kapal besar dan hanya digunakan pada kapal kecil sebagai bahan alternatif pengganti kayu yang semakin sulit ditemui.

    4. Fibreglass Construction

    Proses pembuatan fibreglass adalah dengan melalui pencetakan serat fiber untuk menjadi sebuah kapal. Fibreglass sendiri adalah merupakan polymer komposit yang memiliki sifat getas (mudah pecah) sangat tinggi. Oleh karena itu bahan ini tidak cocok juga bagi kapal-kapal besar. Biasanya digunakan pada kapal kecil seperti Yacht, dan sejenisnya. Kelebihannya adalah bahan ini ringan, tidak mengalami korosi, dapat dibuat dalam berbagai bentuk dan warna, serta pemeliharaan lambung kapal menjadi relatif mudah.
  • INSURABLE INTEREST

    1. DEFINISI

    Hak untuk mengasuransikan yang timbul dari suatu hubungan keuangan antara tertanggung dengan yang diasuransikan dan diakui secara hukum 

    2. KONSEP INSURABLE INTEREST

    2.1.  Tidak semua resiko dapat diasuransikan
    2.2. Yang dapat diasuransikan harus memenuhi criteria sebagai berikut :
    • Nilainya dapat diukur secara finansial
    • Pure Risk
    • Particular Risk
    • Kerugian yang tidak dikehendaki tertanggung
    • Homogenous exposure
    • Reasonable premium
    • Tidak bertentangan dengan kepentingan umum
    • Insurable Interest


    3. Subject Matter Of Insurance 

    Dapat berbentuk :
    • Property
    • Kejadian yang secara hukum dapat menimbulkan kerugian
    • Tanggung jawab hukum

    4. ESSENTIAL OF INSURANCE INTEREST
    • Harus ada benda, hak. Kepentingan, jiwa, tanggung jawab yang dapat diasuransikan
    • Benda, hak, kepentingan dan sebagainya tersebut harus merupakan Subject matter of insurance
    • Tertanggung harus mempunyai hubungan dengan subject matter of insurance, dimana dia memperoleh manfaat atas keutuhannya dan mengalami kerugian atas rusaknya dan hilangnya Subject matter of insurance
    • Hubungan antara tertanggung dan subject matter of insurance harus diakui /sah menurut hukum


    5. Undang- undang Yang Mengharuskan Insurable Interest

    A. Di-Inggris

    a.  Marine Insurance Act. 1745 (MIA 1745)
    • Tidak dibenarkan menutup Asuransi Marine kepada siapapun juga tanpa ada insurable interest
    • Apabila diketemukan dikemudian hari maka pertanggungan (perjanjian asuransi) dinyatakan batal dan dianggap tidak pernah ada perjanjian.
    b. Life Assurance ACT (LAA) 1774 :
    • Kontrak As. Jiwa tanda I.I. maka dinyatakan batal sejak awal
    • Nama tertanggung harus dituliskan dalam polis
    • Ganti rugi (benefit) setinggi-tingginya sama yang tertulis dalam polis
    • Tidak memperluas/mengatur mengenai asuransi cargo, kapal dan barang dagangan 
    c. Marine Insurance ACT (MIA) 1906
    • Tindakan melawan hukum apabila mengasuransikan kapal, muatan dan barang dagangan tanpa mempunyai Insurable interest
    • Nama tertanggung harus ditulis dalam polis
    • Pertanggungan tanpa insurable interest dikatakan judi à Kriminal     
    d. Marine Insurance ACT (MIA) 1906 :
    • Revisi MIA 1774 dan 1778
    • Merupakan kodifikasi dari kumpulan-kumpulan case law
    • Pertanggungan marine tanpa insurable interest dinyatakan batal
    • Insurable interest harus ada pada waktu terjadinya klaim
     e. MIA 1909 (Gambling Policies)
    • Pertanggungan marine tanpa insurable interest dinyatakan illegal dan merupakan judi yang melanggar hukum dengan pelanggaran kriminal
    B. Di-Indonesia

    KUHD Pasal 250: “Apabila seseorang yang telah mengadakan suatu pertangungan untuk diri sendiri atau apabila seseorang yang untuknya telah diadakan suatu pertanggungan pada saat pertanggungan, itu tidak mempunyai kepentingan terhadap barang yang dipertanggungkan itu, maka sipenanggung tidaklah diwajibkan memberikan ganti rugi”

    KUHD Pasal 268: “Suatu pertanggungan dapat mengenai segala kepentingan yang dapat dinilaikan dengan uang, dapat diancam oleh suatu bahaya, dan tidak dikecualikan oleh Undang-undang”


    6.  TIMBULNYA INSURABLE INTEREST

    a. Berdasarkan common law (hukum kebiasaan)
    • Kepemilikan benda
    • Tanggung Jawab Hukum (TJH)
    b. Berdasarkan kontrak (By Contract)
    • Sewa rumah
    c. Berdasarkan peraturan (By Statue)



    7. APLIKASI INSURABLE INTEREST

    Pada Asuransi Jiwa :
    • Atas dirinya sendiri
    • Karena hubungan perkawinan
    • Anak dan orang tua
    • Ikatan kontrak
    • Karena keterkaitan tanggungan hidup
    • Kreditur dan Debitur
    Pada Asuransi Harta Benda
    • Full Ownership
    • Part or Joint Owners
    • Mortgagees and Mortgagors
    • Executor and trustees
    • Bailees
    • Agen
    • Suami dan isteri
    Pada Liability Insurance
    • Semua orang mempunyai insurable interest dalam hal tanggung gugat yang akan timbul bagi dirinya
    • Jumlahnya tanpa batas

    8. KAPAN INSURABLE INTEREST HARUS ADA
    • Marine : Pada saat kerugian (MIA 1906)
    • Life : Pada saat penerimaan atau penutupan
    • Property : Pada saat penutupan dan pada saat kerugian

    9. ASSIGNMENT OF INSURANCE POLICY 

    Pengalihan asuransi dari pihak yang satu ke pihak lain memerlukan pertimbangan underwriting, mengingat pemegang polis yang baru mungkin insurable interestnya tidak sama.

    a. Personnal Contract
    • Polis tidak dapat diassigment secara bebas karena polis Asuransi tergolong sebagai Personal Contract
    • Sifat dan tingkah laku tertanggung sangat mempengaruhi kemungkinan terjadinya kerugian
    • Apabila penanggung setuju atas pemindahan polis berarti akan timbul kontrak baru
    • Proses terjadinya kontrak baru yang beraal dari assigment ini disebut “Novation”
    • Apabila assigment dipersyaratkan dalam undang-undang maka pemindahan itu berjalan otomatis  

    b. Assignment Of Marine Policies
    • Diperkenankan (Marine Insurance Act 1906)à bahkan bebas
    • Barang sering diperjualbelikan dalam pelayaran atau transit
    • Untuk asuransi kapal tetap seperti personal contract

    c. Assigment Of Life Policies

    • Kepentingan atas benefit tertanggung dapat dipindahkan secara bebas
    • Perbuatan tertanggung ini tidak berpengaruh atas kemungkinan timbulnya klaim 


    d. Absolute Assigment
    Polis boleh dipindah tangankan secara bebas kepada orang yang tidak mempunyai insurable interest atas nama yang dipertanggungkan. Dalam hal demikian penerima assigment memiliki semua hak dan kewajiban.


    e. Conditional Assigment
    • Seringkali assigment polis pada asuransi jiwa tidak dilakukan secara penuh tetapi dengan kondisi tertentu untuk tujuan pemberian jaminan terhadap mortagagee atas pinjaman yang diberikan.
    • Pada saat pinjaman dibayar kembali, maka hak benefit polis yang dipindahkan itu kembali pada tertanggung.


    f. Policies Of Assurance ACT 1867

    Undang-undang ini ini memperkenankan penerima pemindahan asuransi untuk menuntut atas namanya dari polis asuransi jiwa, dengan ketentuan bahwa ia telah memberitahukan kepada penanggung pada waktu pelimpahan hak .


    g. Assigment Of Subject matter of insurance
    • Assigment of Subject matter of insurance bisa terjadi bila barang dijual atau dihibahkan
    • Assigment of Subject matter of insurance tidak secara otomatis menyebabkan assigment of policy
    KUHD Pasal 263 :
    Apabila barang yang dipertanggungkan dijual atau berpindah hak miliknya, maka pertanggungan berjalan terus guna keuntungan si pembeli atau pemilik baru, biarpun pertanggungan tidak dioperkan, kecuali telah diperjanjikan hal yang sebaliknya antara penanggung dan tertanggung awal.

    Apabila pembeli atau pemilik baru menolak untuk mengoper pertanggungannya, sedangkan sitertanggung yang semula masih berkepentingan terhadap barang yang dipertanggungkan, maka pertanggungan itu sementara tetap berjalan guna keuntungannya.


    h. Assigment Of The Benefit Of The Contract
    • Kontrak tidak di-assigned, yang diassigned hanyalah benefit dari pada kontrak tersebut
    • Tertanggung tidak berubah
    • Tidak ada perubahan dalam pokok pertanggungan atau aspek-aspek lainnya dari resiko tersebut
    • Tertanggung hanya perlu memberitahukan kepada penanggung bahwa benefit atau uang klaim agar dibayarkan kepada assignee
    • Tertanggung tidak perlu mendapatkan persetujuan dari penanggung untuk assigment tersebut
    • Assignee tidak harus mempunyai insurable interest pada pokok pertanggungan itu
    • Assignment bisa terjadi sebelum atau sesudah klaim terjadi.
  • REASURANSI

    Beberapa definisi dari Reasuransi antara lain adalah:

    “Asuransi kembali oleh Penanggung baik seluruh atau sebagian risiko yang telah ditanggungnya kepada Penanggung lain”

    atau

    Proses dimana satu penanggung mengatur dengan satu atau beberapa penanggung lainnya membagi risiko dalam reasuransi.

    Catatan pada Reasuransi :
    • Perusahaan yang mengalihkan risikonya kepada pihak asuransi atau reasuransi lainnya disebut Ceding Company
    • Perusahaan Asuransi yang menerima pertanggungan ulang dari Ceding Company sebut Reasuradur.
    • Perjanjian Reasuransi antara Ceding Company dan Reasuradur, yang harus dibuat secara tertulis merupakan perjanjian terpisah dan berdiri sendiri dengan perjanjian antara Tertanggung dan Penanggung.


    FUNGSI REASURANSI

    • Memperbesar kapasitas akseptasi perusahaan asuransi.
    • Menciptakan stabilitas keuangan perusahaan asuransi.
    • Mendapatkan rasa mantap
    • Mendapatkan proteksi atas resiko yang katastropik
    • Melaksanakan penyebaran risiko

    Dalam prakteknya, apabila Reasuradur yang bersangkutan juga menampung risiko yang banyak pula, perusahaan tersebut dapat melemparkan kembali sebahagian risiko dimaksud dengan perusahaan Reasuransi lain baik didalam ataupun diluar negeri, cara mana disebut Retrosesi.


    METODE PENEMPATAN REASURANSI

    A. FAKULTATIF
    Suatu bentuk kerjasama antara Ceding Company dan Reinsurer :
    •  Yang sifatnya case by case (resiko per resiko)
    • Berdasarkan Not Annual basis
    • Ceding company bebas menawarkan atau tidak menawarkan suatu bisnis (risiko)
    • Reinsurer juga bebas untuk menerima atau tidak menerima bisnis yang ditawarkan tersebut
    Keuntungan metode Facultative
    • Menyediakan kapasitas untuk risiko pilihan   
    • Masing2 pihak bebas untuk mempertimbangkan term and condition
    • Memproteksi program reasuransi treaty
    • Menanggulangi kelebihan dari nilai risiko
    Kelemahan metode Facultative
    • Biaya administrasi tinggi
    • Memakan waktu lama dalam menempatkan suatu risiko
    • Perusahaan asuransi tidak dapat dapat memberikan konfirmasi penutupan sebelum penempatan reasuransinya komplit
    • Umumnya komisi reasuransi lebih rendah dibanding treaty


    B. TREATY

    Suatu bentuk kerjasama antara Ceding Company dan Reinsurer :
    • Berdasarkan Annual basis
    • Ceding company wajib menawarkan suatu bisnis (risiko)
    • Reinsurer wajib menerima bisnis (risiko) yang ditawarkan tersebut


    BENTUK TREATY REINSURANCE

    1. PROPORTIONAL TREATY
    Bahwa terdapat perimbangan yang tetap antara premi yang diterima, klaim dan bagian yang menjadi tanggungan (liability) dari masing-masing pihak.

    Bentuk Proportional Treaty
    1.a. Quota Share
    Suatu bentuk kerjasama antara Ceding Company dan Reinsurer :
    • Berdasarkan Annual basis
    • Ceding company wajib menawarkan suatu bisnis (risiko)
    • Reinsurer wajib menerima bisnis (risiko) yang ditawarkan tersebut
    • Bagian / Share dari Ceding Company & Reinsurer ditentukan berdasarkan proporsi yang tetap di awal perjanjian.
    • Berdasarkan prosentase basis 


    Keuntungan Treaty Prop. - Quota Share
    • Administrasi sederhana dan biaya murah
    • Komisi lebih tinggi dan term lebih baik
    • Menerima sejumlah saham untuk setiap risiko (tidak memilih)
    Kelemahan Treaty Prop. - Quota Share
    • Koefisien premi yang tinggi
    • Prosentase Quota Share yang ketat
    • Tidak Fleksible


    Contoh :
    Jumlah pertanggungan                  = Rp. 10.000.000,-

    Bagian :
    Ceding Company                             25%            = Rp.   2.500.000,-
    Reinsurer                                        75%            = Rp.   7.500.000,-
    Jumlah                                           100%            = Rp. 10.000.000,-


    1.b. Surplus
    Suatu bentuk kerjasama antara Ceding Company dan Reinsurer :
    • Berdasarkan Annual basis
    • Ceding company wajib menawarkan suatu bisnis (risiko)
    • Reinsurer wajib menerima bisnis (risiko) yang ditawarkan tersebut
    • Reinsurer wajib mengaksep setiap kelebihan risiko diatas retensi (O/R) ceding company
    • Berdasarkan line basis


    Keuntungan Treaty Proportional - Surplus
    • Yang direasuransikan hanya bagian risiko yang melebihi retensi ceding company
    • Portfolio yang ditahan homogen karena retensi cedant berupa limit moneter yang tetap
    • Cedant bisa mendapatkan profitable business, karena menahan lebih besar risiko yang baik (fleksible)
    Kelemahan Treaty Proportional - Surplus
    • Biaya administrasi tinggi
    • Perlu orang yang berpengalaman dalam menetapkan retensi, menghitung premi retensi dan premi reasuransi

    Contoh :
    Ceding Company                         1 line            = Rp.   2.500.000,-
    Reinsurer                                    4 lines           = Rp. 10.000.000,-
    Jumlah                                         5 lines          = Rp. 12.500.000,-  (Maks Akseptasi)
                   

    2. NON PROPORTIONAL TREATY
    Bahwa jumlah risiko tidak sebanding / tidak membagi proporsi setiap kerugian (klaim) dengan premi dan liability, dalam suatu perbandingan yang tetap oleh sebab itu sistem ini disebut sistem excess of loss, karena reasuradur hanya bertanggung jawab atas kerugian untuk limit setelah retensi dari ceding company.

    2.a. Excess Of loss
    Suatu bentuk kerjasama antara Ceding Company dan Reinsurer :
    • Berdasarkan Annual basis
    • Ceding company wajib menawarkan suatu bisnis (risiko) dan Reinsurer wajib menerima bisnis (risiko) yang ditawarkan tersebut
    • Dimana dalam setiap klaim atau serangkaian klaim yang timbul dari satu peristiwa, bagian menjadi tanggungan ceding company terbatas hanya pada jumlah tertentu, sedangkan selebihnya menjadi beban reinsurer, inipun juga mencapai jumlah yang telah ditetapkan dalam perjanjian reasuransi yang bersangkutan.
    • Berdasarkan underlying (u/r) dan layer basis
    Keuntungan Treaty Non Proportional – Excess of Loss
    • Proteksi untuk resiko – resiko yang besar atau katastropik dengan nilai kerugian yang besar.
    • Jumlah premi yang ditahan lebih besar karena biaya yang dibayarkan untuk program reasuransi non proportional tidak mengacu kepada jumlah produksi premi penutupan asuransi.
    • Mengurangi biaya – biaya adminstrasi bila dibandingkan dengan program reasuransi proportional (biaya laporan bulanan, dan lain sebagainya)
    Kelemahan Treaty Non Proportional – Excess of Loss
    • Rate / biaya program excess of loss yang tinggi
    • Kapasitas lingkup pasar yang ketat
    • Apabila banyak frekuensi klaim dibawah deductible maka akan meningkatkan beban ceding company.
    Terdapat 2 macam excess of loss:
    • Working Cover : memproteksi Own Retention ceding company dari kerugian individual
    • Catastrophe Cover :memproteksi Own retention ceding company dari kerugian katastropik


    2.b. Stop loss
    Suatu bentuk kerjasama antara Ceding Company dan Reinsurer:
    • Berdasarkan Annual basis
    • Ceding company wajib menawarkan suatu bisnis (risiko) dan Reinsurer wajib menerima bisnis (risiko) yang ditawarkan tersebut
    • Memproteksi own retention ceding company, dimana reinsurer akan bertanggung jawab bila kerugian melebihi net retention (U/R) ceding company berupa prosentase loss ratio yang ditetapkan ceding company hingga prosentase loss ratio yang ditetapkan dalam treaty sebagai cover limit
    • Berdasarkan underlying (u/r) dan layer basis
    2.c. Aggregate Excess of Loss
    Suatu bentuk kerjasama antara Ceding Company dan Reinsurer :
    • Berdasarkan Annual basis
    • Ceding company wajib menawarkan suatu bisnis (risiko) dan Reinsurer wajib menerima bisnis (risiko) yang ditawarkan tersebut
    • Memproteksi own retention ceding company, dimana reinsurer akan bertanggung jawab bila kerugian melebihi net retention (U/R) ceding company berupa jumlah yang ditetapkan ceding company hingga jumlah yang ditetapkan dalam treaty sebagai cover limit
    • Berdasarkan underlying (u/r) dan layer basis 


    3. FAKULTATIF OBLIGATORY

    Suatu bentuk kerjasama antara Ceding Company dan Reinsurer :
    • Berdasarkan Annual basis
    • Ceding company bebas menawarkan atau tidak menawarkan suatu bisnis (risiko)
    • Begitu Ceding Company menawarkan suatu bisnis, Reinsurer harus wajib menerima bisnis yang ditawarkan tersebut, dengan syarat bisnis tersebut ada dalam perjanjian / agreement


    POOL
    • Suatu bentuk perjanjian antara beberapa Perusahaan Asuransi
    • Untuk menempatkan jenis asuransi tertentu dalam satu sentral yang kemudian akan dikembalikan kepada masing-masing anggota, sesuai share / sahamnya masing2 yang telah ditetapkan
    • Pool ini terutama untuk akseptasi risiko-risiko besar dan khusus, seperti asuransi penerbangan, asuransi terhadap risiko-risiko pasar (konsorsium).


    Komisi Reasuransi :
    Komisi reasuransi yang diberikan kepada ceding company sehubungan dengan premi reasuransi yang diterima oleh reasuradur
      
    Profit Commision / Komisi Keuntungan :
    Komisi reasuransi yang diberikan reasuradur sebagai insentif atas hasil underwriting yang menguntungkan

    Intermediary Commision / Brokerage :

    Komisi reasuransi yang diberikan oleh Reasuradur kepada Reinsurance broker yang menempatkan dan memasarkan treaty ceding company
  • WHAT WE HAVE

    We try to share as many as we can by many channel.