• UNDERWRITING DAN PEMBAGIAN RISIKO DALAM ASURANSI

    Karakteristik physical dan moral hazard

    Physical hazard
    Physical hazard adalah hazard yang berkenaan dengan karakter fisik dari objek pertanggungan. Berikut sebagai contoh :

    a. Property Loss or Damage
    Konstruksi bangunan merupakan aspek phisikal hazard. Bangunan yg berkonstruksi kayu akan terlihat memiliki tingkat phisikal hazard  yg lebih tinggi dibandingkan dengan bangunan yg berkonstruksi dari batu. Adapun penambahan APAR dapat menghasilkan gambaran phisikal hazard yg baik.

    b. Liability
    Limbah berbahan kimia yg dikeluarkan oleh suatu pabrik merupakan bentuk phisikal hazard yg buruk.

    c. Motor
    Seseoran yg memiliki jarak tempuh yang jauh seperti salesman pastinya memiliki phisikal hazard yg tinggi dibandingkan dg sebaliknya. Kendaraan yang diletakkan didalam garasi  merupakan contoh phisikal hazard yg baik dibandingkan pemilik yg meletakkan kendaraannya dipinggir jalan.

    d. Life Assurance
    Orang yang pekerjaannya berpotensial memiliki tingkat bahaya tinggi seperti pilot adalah bentuk phisikal hazard yg buruk dalan as. Jiwa.


    MORAL HAZARD
    Hazard ini berkenaan dgn kebiasaan seseorang sebagai tertanggung atas barang yang ia asuransikan. Seorang underwriter harus dapat menganalisa aspek ini dengan benar ketika risiko tsb diterima. Berikut 3 ilustrasi mengenai moral hazard :

    1. Salah satu contoh yang paling banyak terjadi adalah karena kekurangan kehati- hatian dari tertanggung. Mereka menganggap bahwa ketika risiko telah diasuransikan maka tidaklah perlu bagi mereka untuk menjaga objek pertanggungan. Dalam kondisi polis ditegaskan bahwa tertangung juga wajib melakukan hal hal yg diangap wajar untuk meminimalisir kerugian yang terjadi. Contoh : pengemudi harus tetap hati-hati mengemudikan mobilnya, pabrik dipastikan harus tetap dlm keadaan bersih ketika operasional telah selesai, dan lain sebagainya.

    2. Anggapan tertanggung dimana asuransi itu seperti investasi.  Hingga mereka berhak mendapatkan kembali uangnya dalam bentuk klaim atau setidaknya sesuai dengan kontribusi yang telah mereka berikan. Mereka lupa bahwa dengan asuransi mereka telah mendapatkan perlindungan sepanjang tahun walaupun terjadi klam atau tidak.

    3. Contoh terakhir adalah ketidakjujuran tertanggung. Hal ini dapat memperbesar jumlah klaim yang seharusnya diterima.


    PROSES UNDERWRITING
    Sejarah awal asuransi pengangkutan laut, data dari kapal atau barang yang akan diasuransikan tersebut dijelaskan dalam sebuah slip. Slip tersebut selanjutnya dibawa ke Lloyd’s dan orang yg akan mengambil risiko harus membaca dan menandatangani slip tersebut. Dalam hal ini orang yang mengambil risiko itu
    disebut underwriter.

    Dengan kata lain seorang underwriter harus :
    1. Menilai risiko yang dibawa peserta ke perusahaan asuransi
    2. Memutuskan apakah risiko tersebut diterima/tidak, atau diterima dengan mengambil bagian risiko seberapa besar?
    3. Menetapkan syarat,kondisi dan luas jaminan yg ditawarkan
    4. Menghitung premi yang seimbang


    TUJUAN DAN PENGGUNAAN SURVEY RISIKO
    Meski telah melibatkan broker, para underwriter juga melibatkan tenaga surveyor. Surveyor risiko adalah orang yang bertindak sebagai mata dan telinga bagi underwiter. Banyak perusahaan yang mempekerjakan spesialis surveyor dalam beberapa bagian yg berbeda seperti kebakaran, keamanan,liability,gangguan usaha dan lain sebagainya.

    Surveyor akan menyiapkan laporan untuk underwriter. Laporan tersebut meliputi :
    • Deskripsi lengkap atas risiko. Meliputi gambaran tentang keadaan lokasi /premises, kegiatan yang ada di lokasi tersebut.
    • Penilaian tentang tingkatan risiko.  Meliputi factor hazard, baik moral maupun phisikal hazard. Surveyor dapat juga memberikan komentar kepada underwriter mengenai keadaan disekitar lokasi seperti pada asuransi kebakaran.  
    • Penilaian mengenai MPL (maximum probable loss). Atau biasa disebut  oleh sebagian orang dengan EML (estimated maximum loss), yaitu perkiraan maksimal yang diprediksi akan besarnya kerugian pada obyek pertanggungan.


    TEORI DAN PRAKTEK MENGENAI FAKTOR YANG DIGUNAKAN DALAM MENGHITUNG RATE PREMI
    Tugas akhir dari underwriter adalah menghitung besarnya premi yang seimbang. Premi tersebut harus mencerminkan kontribusi yg sesuai pada common pool. Kontribusi itu harus pula adil, dengan kata lain dalam menetapkan premi tersebut harusnlah mewakili hal-hal dibawah ini :

    1. Menutupi biaya klaim
    Penanggung dalam hal ini berada dalam posisi untuk memprediksi klaim yang mungkin terjadi. Sangat tidak mungkin bila mengatakan dengan tepat berapa jumlah klaim yg akan dibayar, tapi dikarenakan banyaknya jumlah tertanggung maka dapat diperoleh penilaian kerugian yang rasional atau wajar terjadi hingga penetapan premi dapat dihitung seimbang dengan jumlah klaim yg mungkin terjadi.

    2. Mengestimasi cadangan klaim
    Tidak semua klaim selama satu tahun itu dapat diselesaikan pada tahun yang sama pula. Maka premi disini harus dapat dicadangkan sebagian untuk menutupi pembayaran klaim yang mungkin baru akan diselesaikan pada tahun yang akan datang.

    3. Cadangan

    4. Menutupi biaya biaya
    Perusahaan asuransi memiliki biaya operasional sepanjang bisnisnya, seperti :
    • gaji untuk karyawan
    • biaya perkantoran
    • iklan/promosi
    • komisi

    Premi yang diperoleh setidaknya harus seimbang dengan biaya operasional yang dikeluarkan oleh perusahaan asuransi.

    5. Keuntungan (Profit)
    Akhirnya tujuan akhir dari perusahaan tersebut adalah keuntungan yang wajar.


    ALASAN PEMBAGIAN RISIKO DENGAN CARA KO ASURANSI DAN REASURANSI

    1. Faktor keamanan
    Perusahaan asuransi menghadapi suatu ketidakpastian terjadinya risiko. Membeli asuransi berarti menghasilkan suatu rasa aman. Maka perusahaan asuransi mencari hal serupa yaitu keamanan  dengan cara reasuransi.

    2.Stabilitas
    Perusahaan Asuransi juga menghindari fluktuasi biaya klaim dari tahun ke tahun, dengan cara reasuransi.

    3.Kapasitas
    Berapapun besarnya suatu perusahaan asuransi, pasti perusahaan Tersebut memiliki limit untuk atas risiko yang akan diterima. Dengan membeli reasuransi perusahaan dapat menambah limit kapasitas hingga dapat menerima bisnis asuransi yang lebih besar.

    4. Perlindungan Katastropik

    Perusahaan asuransi tidak dapat menghindari bahwa suatu saat akan terjadi kerugian yang bersifat katastrop. Hal ini akan menjadi sangat berbahaya bagi kelangsungan bisnis perusahaan nya bila tidak didukung oleh reasuransi.